Minggu 10 Januari 2010, tim P-WEC, Suporter ProFauna dan masyarakat setempat, melakukan penghijauan di Bon Keke, Dusun Sumberbendo, Kecamatan Dau Malang yang langsung berbatasan dengan hutan. Desa Sumberbendo berada di lereng Gunung Kawi yang terletak di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut dengan topografi pegunungan hingga kemiringan 45 derajad.
P-WEC sebagai pusat pendidikan konservasi alam dan satwa liar yang berbatasan langsung dengan Desa Sumberbendo berupaya menghijaukan kembali lahan-lahan kritis yang ada di sekitar P-WEC dan lereng Gunung Kawi.
Berbeda dengan penghijauan yang dilakukan tahun sebelumnya, penghijauan di Bon Keke kali ini ditanami dengan berbagai jenis tanaman kayu seperti kayu mindi (Azadirachta indica), suren (Toona sureni Merr), mahoni (Swietenia mahagoni), kedondong (Spondias dulcis), gmelina (Gmelina arborea), rukem (Flacourtia rukam zoll & mor), alpukat (Persea Americana mill), kupu-kupu (Bauhinia acuminate), jambu biji (Psidium guajava), nangka (Artocarpus heterophyllus) dan mangga (Mangivera indica. Tanaman tersebut merupakan sumbangan dari Jasa Tirta, ProFauna, P-WEC dan Javan Langur Conservation (JLC).
Selain menghijaukan kembali Bon Keke, penghijauan kali ini juga diarahkan untuk menyelamatkan sumber air yang ada di tengah Dusun Sumberbendo. Sebanyak 500 pohon trembesi (Samanea saman) ditanam di daerah aliran sungai (DAS) Sumberbendo, 300 tanaman suren (Toona sureni) dan 100 pohon petai cina (Leucaena leucephala) ditanam di tempat pemakaman umum. Selian itu sebanyak 50 pohon klengkeng (Dimocarpus longan) juga ditanam di areal perkampungan dan 100 pohon durian (Durio zibethinus) ditanam di ladang milik warga.
Jenis tanaman ini dipilih selain memiliki manfaat ekologi ekonomi tetapi juga memiliki perakaran yang kuat dengan tekstur kayu yang keras dan tahan terhadap serangan penyakit selain itu memiliki umur panjang dan mampu hidup di dataran tinggi, sehingga tanaman ini cocok digunakan sebagai tanaman pelindung selain menghasilkan buah yang bermanfaat.
Kelak tanaman ini selain berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi, juga akan menguntungkan kehidupan warga desa dan lingkungannya karena masyarakat juga dapat memanfaatkan hasilnya berupa buah nangka. Kelak pemanfaatan hasil buahnya akan diatur dengan kebijakan desa.
Kamis, 21 Januari 2010
Kamis, 07 Januari 2010
KONTINGEN FPTI KABUPATEN BOGOR

Dari kiri atas: TB. Boy Boulder/Lead, Awal Official, Dwi K Boulder, Bowo Official, Chivli Speed, M Iqbal Official. Dari kiri tengah: Elyanto Speed, Reza Speed, Indra Yoga Boulder/Lead, M Fachry Boulder/Lead, Agiel Lead. Dari kiri bawah: Syabudin Speed, Evi Boulder, Nurhalimah Boulder/Lead/Speed, Triyanti Lead/Speed, Dahlia Boulder/Lead/Speed, Caca Boulder, Bim Sigrid Boulder. Foto bersama didepan mess atlet panjat tebing Kabupaten Bogor seusai babak kualifikasi Porda XI Jabar 21-27 Des 2009 Lapangan sempur Kota Bogor dengan perolehan 2 emas, 1 perak, dan 4 perunggu.
Selasa, 29 Desember 2009
Kualifikasi Porda XI Panjat Tebing

Indra Yoga menembus jalur 3 dengan satu kali percobaan di final boulder perorangan putra pada babak kualifikasi Porda XI Jabar (27/12/09) lapangan sempur Kota Bogor.
Koclak, sapaan akrab Indra yang pernah gagal meraih medali pada PON 2008 kini tampil maksimal di nomor boulder dengan perolehan medali emas. Kens
Selasa, 24 November 2009
WANITA PERTAMA PENAKLUK EVEREST MASUK RSJ
FPTI News, Malang benar nasib Clara Sumarwati (44). Pendaki gunung asal Minggiran, Sleman, DIY yang pernah membawa nama Indonesia hingga ke puncak gunung tertinggi di dunia, Puncak Everest, kini terisolisir dari dunia luar lantaran harus mendapat pengobatan di bangsal perawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr Soeroyo Kota Magelang.
Wanita yang diyakini sebagai perempuan pertama Asia Tenggara yang berhasil menapak di ketinggian 8.848 meter itu mengalami gejala paranoid.
Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof dr Soerojo Magelang Bella Patriajaya mengatakan, Clara adalah pasien kambuhan yang sudah tiga kali ini menjalani perawatan di RSJ. Gangguan jiwa yang dideritanya beberapa kali kambuh karena dia diduga tidak rutin mengonsumsi obat.
"Namun, sejauh ini, kami belum bisa menyimpulkan faktor pemicu apa yang menyebabkan Clara mengalami gangguan jiwa," kata dia, Senin (12/10/2009).
Clara kali pertama dirawat pada tahun 1997 dan masuk lagi pada tahun 2000. Untuk yang ketiga kalinya, keluarga Clara memasukkan kembali ke RSJ pada 30 Juni 2009. Dia dirawat di bangsal W3 atau Wisma Drupadi.
Dokter yang merawat Clara, dr Hariyono Padmosudiro, menambahkan gejala gangguan kejiwaan pasiennya memperlihatkan kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih. Dia selalu diliputi rasa curiga yang tidak berdasar dan tidak realistis pada lingkungan bahkan akibat ketakutannya itu dia cenderung bersikap mengganggu lingkungan sosialnya.
"Meskipun orang lain tidak ada apa-apa, tetapi dianggapnya mau mencelakakannya," jelas dia.
Pemicu tekanan jiwa dari wanita yang sukses mendaki Everest di tahun 2006 setelah dua tahun sebelumnya gagal itu besar kemungkinan karena kekecewaan atas respon sosial lingkungannya.
Orang-orang di sekitarnya dianggap tidak menghargai perjuangannya membawa nama harum bangsa Indonesia. Perasaan itu dipendam dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan frustasi berkepanjangan.
"Berdasarkan data yang kami miliki tidak ada faktor keturunan. Rasa kecewa sebagai pencetus meskipun ada latar belakang sebelumnya berupa mental yang rapuh," katanya.
Hariyono menambahkan setelah sekitar dua pekan mendapat perawatan, secara medis kondisi Clara saat ini membaik. Dia sudah bisa berinteraksi dengan lingkungannya secara bagus. Bahkan saat ditemui wartawan di bangsal perawatannya, Clara mampu menuturkan kisah pendakiannya di Everest secara runut.
Lulusan Universitas Atmajaya Jakarta jurusan Psikologi Pendidikan ini juga mengaku masih mempunyai keinginan untuk menaklukan gunung tinggi di luar negeri. Sayangnya, membaiknya kondisi Clara tidak mendapat dukungan dari lingkungan sosial asalnya.
Pihak keluarga menolak membawanya pulang, karena khawatir kumat lagi. Surat penolakan kepulangan tersebut juga dilampiri keterangan dari RT dan RW di tempat Clara tinggal.
Hariyono sendiri berharap, keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal Clara bersedia menerimanya kembali. "Petugas kami akan berusaha meyakinkan mereka bahwa Clara sudah bisa berperilaku sosial dengan baik dan hal ini perlu mendapat dukungan dari keluarga maupun masyarakat," imbuh dia.
Kisah pilu Clara yang "terdampar" di RSJ ini terjadi secara tak sengaja. Sekitar seminggu yang lalu, beberapa tim penilai pemuda pelopor dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga datang ke RSJ Prof dr Soeroyo. Mereka bermaksud menilai Poppy Safitri, wakil kontingen Jawa Tengah untuk lomba pemuda pelopor tingkat nasional, yang diketahui menjadi pengajar kesenian tari di RSJ tersebut.
Salah satu tim penilai ternyata masih mengenali sosok Clara yang pernah diberi penghargaan Bintang Nararya karena membawa nama harum Indonesia di kancah internasional. (Agus Joko/Koran SI/fit)
Wanita yang diyakini sebagai perempuan pertama Asia Tenggara yang berhasil menapak di ketinggian 8.848 meter itu mengalami gejala paranoid.
Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof dr Soerojo Magelang Bella Patriajaya mengatakan, Clara adalah pasien kambuhan yang sudah tiga kali ini menjalani perawatan di RSJ. Gangguan jiwa yang dideritanya beberapa kali kambuh karena dia diduga tidak rutin mengonsumsi obat.
"Namun, sejauh ini, kami belum bisa menyimpulkan faktor pemicu apa yang menyebabkan Clara mengalami gangguan jiwa," kata dia, Senin (12/10/2009).
Clara kali pertama dirawat pada tahun 1997 dan masuk lagi pada tahun 2000. Untuk yang ketiga kalinya, keluarga Clara memasukkan kembali ke RSJ pada 30 Juni 2009. Dia dirawat di bangsal W3 atau Wisma Drupadi.
Dokter yang merawat Clara, dr Hariyono Padmosudiro, menambahkan gejala gangguan kejiwaan pasiennya memperlihatkan kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih. Dia selalu diliputi rasa curiga yang tidak berdasar dan tidak realistis pada lingkungan bahkan akibat ketakutannya itu dia cenderung bersikap mengganggu lingkungan sosialnya.
"Meskipun orang lain tidak ada apa-apa, tetapi dianggapnya mau mencelakakannya," jelas dia.
Pemicu tekanan jiwa dari wanita yang sukses mendaki Everest di tahun 2006 setelah dua tahun sebelumnya gagal itu besar kemungkinan karena kekecewaan atas respon sosial lingkungannya.
Orang-orang di sekitarnya dianggap tidak menghargai perjuangannya membawa nama harum bangsa Indonesia. Perasaan itu dipendam dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan frustasi berkepanjangan.
"Berdasarkan data yang kami miliki tidak ada faktor keturunan. Rasa kecewa sebagai pencetus meskipun ada latar belakang sebelumnya berupa mental yang rapuh," katanya.
Hariyono menambahkan setelah sekitar dua pekan mendapat perawatan, secara medis kondisi Clara saat ini membaik. Dia sudah bisa berinteraksi dengan lingkungannya secara bagus. Bahkan saat ditemui wartawan di bangsal perawatannya, Clara mampu menuturkan kisah pendakiannya di Everest secara runut.
Lulusan Universitas Atmajaya Jakarta jurusan Psikologi Pendidikan ini juga mengaku masih mempunyai keinginan untuk menaklukan gunung tinggi di luar negeri. Sayangnya, membaiknya kondisi Clara tidak mendapat dukungan dari lingkungan sosial asalnya.
Pihak keluarga menolak membawanya pulang, karena khawatir kumat lagi. Surat penolakan kepulangan tersebut juga dilampiri keterangan dari RT dan RW di tempat Clara tinggal.
Hariyono sendiri berharap, keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal Clara bersedia menerimanya kembali. "Petugas kami akan berusaha meyakinkan mereka bahwa Clara sudah bisa berperilaku sosial dengan baik dan hal ini perlu mendapat dukungan dari keluarga maupun masyarakat," imbuh dia.
Kisah pilu Clara yang "terdampar" di RSJ ini terjadi secara tak sengaja. Sekitar seminggu yang lalu, beberapa tim penilai pemuda pelopor dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga datang ke RSJ Prof dr Soeroyo. Mereka bermaksud menilai Poppy Safitri, wakil kontingen Jawa Tengah untuk lomba pemuda pelopor tingkat nasional, yang diketahui menjadi pengajar kesenian tari di RSJ tersebut.
Salah satu tim penilai ternyata masih mengenali sosok Clara yang pernah diberi penghargaan Bintang Nararya karena membawa nama harum Indonesia di kancah internasional. (Agus Joko/Koran SI/fit)
Minggu, 25 Oktober 2009
Porkab VIII 2009 Cabang Panjat Tebing
Fpti Fasilitasi Atlet
FPTI news, Hingga tulisan ini diturunkan tercatat 10 kecamatan yang telah mengembalikan formulir C pada cabang panjat tebing, diantaranya yaitu Kecamatan Bojong Gede, Cariu, Cibinong, Cileungsi, Citeureup, Kemang, Klapa Nunggal, Tanjung sari, Nanggung, dan Leuwiliang.
Selain itu masih ada 5 Kecamatan yang mempunyai potensi tetapi belum daftar karena belum mendapat dukungan dari pihak kecamatan. Hal tersebut sangat disayangkan, karena akan menghambat minat dan bakat seta perkembangan olahraga panjat tebing di kabupaten Bogor.
Indikasi masalah biaya masih menghantui tiap kecamatan, dikhawatirkan semakin banyaknya cabang olahraga yang dikirim semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan oleh Kecamatan. Terlebih panjat tebing termasuk cabang eksebisi dan medalinya tidak masuk hitungan.
Fpti kabupaten Bogor memberikan solusi untuk meminimalisir pengeluaran biaya bagi kontingen panjat tebing, yaitu dengan cara memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan atlet yang akan bertanding. Fasilitas yang disediakan yaitu penginapan, makan peserta, perlengkapan manjat, dan kaos peserta.
"Bagi calon peserta yang tidak mendapat dukungan dari kecamatan akan diakomodir oleh Pengcab Fpti, tanpa mendapat dukungan dari pihak kecamatan mereka akan tetap bertanding membawa nama Kecamatan, kata Ketua umum Fpti Kabupaten Bogor Tb.Luthfi syam di tengah-tengah rapat panitia pelaksana Porkab cabang panjat tebing belum lama ini.
Porkab VIII 2009 Cabang Panjat Tebing akan dilaksanakan pada tanggal 30 oktober -3 November 2009 di lapangan Tegar Beriman Pemda setempat. Pada sebelumnya Koni kabupaten Bogor mentapkan tanggal 1 November untuk pelaksanaan Porkab panjat tebing, karena cuaca lagi sering turun hujan maka jadual dimajukan jadi tanggal 31 pembukaan dan tanggal 30 technical meeting (Kens).
FPTI news, Hingga tulisan ini diturunkan tercatat 10 kecamatan yang telah mengembalikan formulir C pada cabang panjat tebing, diantaranya yaitu Kecamatan Bojong Gede, Cariu, Cibinong, Cileungsi, Citeureup, Kemang, Klapa Nunggal, Tanjung sari, Nanggung, dan Leuwiliang.
Selain itu masih ada 5 Kecamatan yang mempunyai potensi tetapi belum daftar karena belum mendapat dukungan dari pihak kecamatan. Hal tersebut sangat disayangkan, karena akan menghambat minat dan bakat seta perkembangan olahraga panjat tebing di kabupaten Bogor.
Indikasi masalah biaya masih menghantui tiap kecamatan, dikhawatirkan semakin banyaknya cabang olahraga yang dikirim semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan oleh Kecamatan. Terlebih panjat tebing termasuk cabang eksebisi dan medalinya tidak masuk hitungan.
Fpti kabupaten Bogor memberikan solusi untuk meminimalisir pengeluaran biaya bagi kontingen panjat tebing, yaitu dengan cara memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan atlet yang akan bertanding. Fasilitas yang disediakan yaitu penginapan, makan peserta, perlengkapan manjat, dan kaos peserta.
"Bagi calon peserta yang tidak mendapat dukungan dari kecamatan akan diakomodir oleh Pengcab Fpti, tanpa mendapat dukungan dari pihak kecamatan mereka akan tetap bertanding membawa nama Kecamatan, kata Ketua umum Fpti Kabupaten Bogor Tb.Luthfi syam di tengah-tengah rapat panitia pelaksana Porkab cabang panjat tebing belum lama ini.
Porkab VIII 2009 Cabang Panjat Tebing akan dilaksanakan pada tanggal 30 oktober -3 November 2009 di lapangan Tegar Beriman Pemda setempat. Pada sebelumnya Koni kabupaten Bogor mentapkan tanggal 1 November untuk pelaksanaan Porkab panjat tebing, karena cuaca lagi sering turun hujan maka jadual dimajukan jadi tanggal 31 pembukaan dan tanggal 30 technical meeting (Kens).
Kamis, 15 Oktober 2009
Pahlawan Kesiangan
FPTI News, Kontroversi keberhasilan Clara Sumarwati mencapai puncak Mount Everest telah muncul sejak kepulangannya ke Indonesia. Para pendaki saat itu meragukan Clara telah menjejakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia itu. Banyak kejanggalan atas klaim Clara.
Muhammad Gunawan, seorang pendaki gunung di era 1996 mengaku melihat beberapa kejanggalan dari bukti-bukti yang diungkapkan Clara. Hal pertama yang membuat pria yang akrab disapa Ogun itu tidak percaya adalah waktu yang dibutuhkan Clara untuk mencapai puncak.
"Dari cerita yang saya dapat, ada beberapa yang menurut saya nggak match," kata Ogun saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).
Selain mendapat cerita dari Clara melalui telepon, Ogun juga sempat bertemu dengan Gibang Basuki, anggota Koppasus yang mendampingi Clara mendaki Everest pada 1996. Menurut dia, saat pendakian itu, Clara berpisah dengan Basuki di camp 5. Mereka berpisah selama dua malam.
"Dari cerita itu, saya mulai nggak yakin kalau dia mencapai puncak, karena medan dari camp terakhir sampai puncak itu berat sekali. Masak dia bisa mencapainya dalam waktu 2 malam," kata Ogun.
Ogun mengatakan, sebenarnya medan tersebut bisa saja ditempuh dalam waktu dua malam. Namun orang yang menaklukkan tersebut harus orang yang sudah lihai dan kuat.
"Sedang saya kira, Clara nggak sekuat itu karena selama ini, di antara teman-teman pendaki, dia yang paling lambat. Dia bisa butuh waktu 4 sampai 5 malam," kata pria yang pernah menjadi pelatih Clara saat pendakian Gunung
Acontagua itu.
Kesangsian Ogun terhadap Clara semakin tebal ketika melihat foto-foto Clara selama melakukan pendakian. Menurut dia, dari semua foto yang ada, tidak ada satu pun yang menunjukkan Clara sedang berada di puncak.
"Foto yang dia bilang di puncak, itu bukan di puncak. Itu jalur menuju puncak, antara camp 5 ke ketinggian 7.700 meter," kata Ogun. Puncak Everest sendiri berada di ketinggian 8.848 mdpl.
Ogun mengatakan, mengenai foto yang selalu diklaim foto berada di puncak Everest, dirinya sempat meminta klarifikasi Clara. Saat itu, Clara berjanji akan menampilkan foto tersebut.
"Kan di puncak Everest itu ada semacam tiang puncak, nah di foto Clara tidak ada itu. Saya sempat tanya dan dia bilang akan kasih, tapi sampai sekarang nggak dikasih-kasih juga. Akhirnya saya dengar katanya fotonya terbakar," kata Ogun.
Adanya sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan berbagai organisai pendakian yang diperoleh Clara juga tidak dapat menyakinkan Ogun dan para pendaki saat itu. Menurut dia, saksi yang menyaksikan Clara menginjakkan kaki di puncak Everest juga tidak bisa memberikan bukti-bukti yang jelas. "Keterangannya juga lari-lari, nggak jelas," kata Ogun.
Keraguan itu semakin kentara setelah Clara seperti enggan memberikan klarifikasi. "Dia berjanji mau bikin presentasi soal keberhasilan itu, tapi tidak pernah terjadi. Dia seakan lari-lari, tidak mau memberi penjelasan," kata pendaki yang sudah dua kali mencoba menaklukkan Everest itu.
Kontroversi soal pendakian Clara ke Everest itu muncul kembali saat berita soal dirawatnya Clara di rumah sakit jiwa muncul ke media. Pendaki perempuan yang disebut-sebut menjadi perempuan pertama yang menjejakkan kaki di Puncak Everest itu mengalami gangguan jiwa. Konon karena Clara merasa prestasinya tersebut tidak dihargai, meski dia pernah dianugerahi Bintang Nararya oleh pemerintah.
sumber : detiknews
Muhammad Gunawan, seorang pendaki gunung di era 1996 mengaku melihat beberapa kejanggalan dari bukti-bukti yang diungkapkan Clara. Hal pertama yang membuat pria yang akrab disapa Ogun itu tidak percaya adalah waktu yang dibutuhkan Clara untuk mencapai puncak.
"Dari cerita yang saya dapat, ada beberapa yang menurut saya nggak match," kata Ogun saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).
Selain mendapat cerita dari Clara melalui telepon, Ogun juga sempat bertemu dengan Gibang Basuki, anggota Koppasus yang mendampingi Clara mendaki Everest pada 1996. Menurut dia, saat pendakian itu, Clara berpisah dengan Basuki di camp 5. Mereka berpisah selama dua malam.
"Dari cerita itu, saya mulai nggak yakin kalau dia mencapai puncak, karena medan dari camp terakhir sampai puncak itu berat sekali. Masak dia bisa mencapainya dalam waktu 2 malam," kata Ogun.
Ogun mengatakan, sebenarnya medan tersebut bisa saja ditempuh dalam waktu dua malam. Namun orang yang menaklukkan tersebut harus orang yang sudah lihai dan kuat.
"Sedang saya kira, Clara nggak sekuat itu karena selama ini, di antara teman-teman pendaki, dia yang paling lambat. Dia bisa butuh waktu 4 sampai 5 malam," kata pria yang pernah menjadi pelatih Clara saat pendakian Gunung
Acontagua itu.
Kesangsian Ogun terhadap Clara semakin tebal ketika melihat foto-foto Clara selama melakukan pendakian. Menurut dia, dari semua foto yang ada, tidak ada satu pun yang menunjukkan Clara sedang berada di puncak.
"Foto yang dia bilang di puncak, itu bukan di puncak. Itu jalur menuju puncak, antara camp 5 ke ketinggian 7.700 meter," kata Ogun. Puncak Everest sendiri berada di ketinggian 8.848 mdpl.
Ogun mengatakan, mengenai foto yang selalu diklaim foto berada di puncak Everest, dirinya sempat meminta klarifikasi Clara. Saat itu, Clara berjanji akan menampilkan foto tersebut.
"Kan di puncak Everest itu ada semacam tiang puncak, nah di foto Clara tidak ada itu. Saya sempat tanya dan dia bilang akan kasih, tapi sampai sekarang nggak dikasih-kasih juga. Akhirnya saya dengar katanya fotonya terbakar," kata Ogun.
Adanya sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan berbagai organisai pendakian yang diperoleh Clara juga tidak dapat menyakinkan Ogun dan para pendaki saat itu. Menurut dia, saksi yang menyaksikan Clara menginjakkan kaki di puncak Everest juga tidak bisa memberikan bukti-bukti yang jelas. "Keterangannya juga lari-lari, nggak jelas," kata Ogun.
Keraguan itu semakin kentara setelah Clara seperti enggan memberikan klarifikasi. "Dia berjanji mau bikin presentasi soal keberhasilan itu, tapi tidak pernah terjadi. Dia seakan lari-lari, tidak mau memberi penjelasan," kata pendaki yang sudah dua kali mencoba menaklukkan Everest itu.
Kontroversi soal pendakian Clara ke Everest itu muncul kembali saat berita soal dirawatnya Clara di rumah sakit jiwa muncul ke media. Pendaki perempuan yang disebut-sebut menjadi perempuan pertama yang menjejakkan kaki di Puncak Everest itu mengalami gangguan jiwa. Konon karena Clara merasa prestasinya tersebut tidak dihargai, meski dia pernah dianugerahi Bintang Nararya oleh pemerintah.
sumber : detiknews
Senin, 31 Agustus 2009
BUDINIAH GALAKAN ESKUL PANJAT TEBING

Ketua Yayasan Budiniah Karanggan yang juga Dewan penasehat Fpti Kabupaten Bogor H. Hengky Suganda (paling kanan) foto bersama siswa/i Budiniah yang mengikuti kegiatan ektra kulikuler panjat tebing di depan wall climbing milik yayasan Budiniah, senin 31/08/09.
Kegiatan ekstra kulikuler panjat tebing terus ditingkatkan disekolah ini, kali ini pembinaan di fokuskan kepada siswa/i yang masih duduk di bangku kelas 1, baik SMP maupun SMA.
Rabu, 26 Agustus 2009
ProFauna Calls for Indonesian Government Action to Fully Enforce the Wildlife Laws at the Skinned an
25 August 2009
Press Release
ProFauna Calls for Indonesian Government Action to Fully Enforce the Wildlife Laws at the Skinned and Stolen Tiger in Rimbo Jambi Zoo, Sumatera
The illegal trade of wildlife parts is more rampant. ProFauna Indonesia, a wildlife protection organization, records that there have been three tigers killed in zoos in Indonesia for the past four months. It seems that there is no more ‘safe place’ for the endangered Sumateran tigers. In the wild, tigers are still being hunted for trade while in zoos; tigers are still threatened as well by the illegal wildlife syndicates.
The latest sadistic case was the skinned and stolen tiger in Rimbo Zoological Garden, Jambi, Sumatera, Indonesia (22 August 2009). The tiger was killed in her cage and the criminals stole most of her carcass which are very lucrative in the black market. The remaining parts left in the cage were her intestines and few ribs.
Almost all of tiger parts are valuable: from fang, claws, skin, and whisker to bones. Based on ProFauna’s survey, the findings uncover the following: a whole body skin of a tiger could fetch 1,000 USD; a fang is 70 USD, a piece of whisker is worth from 12.5 to 30 USD, and a rib costs 25 USD. ProFauna’s latest survey revealed that from 21 locations visited in Sumatera, six of them sold tiger parts. Furthermore, these illegal crimes happen openly in Jambi, Bengkulu, Lampung, Padang, and Palembang Cities.
ProFauna is strongly against such crimes, especially those happen in zoos. The latest stealing in Jambi zoo shows the lack of control and security by the zoo’s authorities. Government should fully enforce the wildlife laws to tackle this illegal wildlife crime and save the remaining big cats.
ProFauna’s campaign officer, Radius Nursidi stated,”The skinned and stolen tiger in Jambi zoo has added the long list of the illegal wildlife crimes in zoos. ProFauna urges the government to fully enforce the laws at this case.” Nursidi added,” ProFauna strongly recommends the government to put moratorium on Indonesian zoos. The government should not permit any new zoo and should instead focus on assisting and monitoring the present zoos”.
Editor’s Notes:
• For more information and images, please contact the International Communication Officer of ProFauna Indonesia, Butet Sitohang, international@profauna.org or mobile: +6281333899741
• ProFauna Indonesia (www.profauna.org) is a wildlife protection organization in Indonesia established since 1994. With the help of it volunteers all over Indonesia, ProFauna works through campaigns, education, trade survey, and wildlife rescue.
Press Release
ProFauna Calls for Indonesian Government Action to Fully Enforce the Wildlife Laws at the Skinned and Stolen Tiger in Rimbo Jambi Zoo, Sumatera
The illegal trade of wildlife parts is more rampant. ProFauna Indonesia, a wildlife protection organization, records that there have been three tigers killed in zoos in Indonesia for the past four months. It seems that there is no more ‘safe place’ for the endangered Sumateran tigers. In the wild, tigers are still being hunted for trade while in zoos; tigers are still threatened as well by the illegal wildlife syndicates.
The latest sadistic case was the skinned and stolen tiger in Rimbo Zoological Garden, Jambi, Sumatera, Indonesia (22 August 2009). The tiger was killed in her cage and the criminals stole most of her carcass which are very lucrative in the black market. The remaining parts left in the cage were her intestines and few ribs.
Almost all of tiger parts are valuable: from fang, claws, skin, and whisker to bones. Based on ProFauna’s survey, the findings uncover the following: a whole body skin of a tiger could fetch 1,000 USD; a fang is 70 USD, a piece of whisker is worth from 12.5 to 30 USD, and a rib costs 25 USD. ProFauna’s latest survey revealed that from 21 locations visited in Sumatera, six of them sold tiger parts. Furthermore, these illegal crimes happen openly in Jambi, Bengkulu, Lampung, Padang, and Palembang Cities.
ProFauna is strongly against such crimes, especially those happen in zoos. The latest stealing in Jambi zoo shows the lack of control and security by the zoo’s authorities. Government should fully enforce the wildlife laws to tackle this illegal wildlife crime and save the remaining big cats.
ProFauna’s campaign officer, Radius Nursidi stated,”The skinned and stolen tiger in Jambi zoo has added the long list of the illegal wildlife crimes in zoos. ProFauna urges the government to fully enforce the laws at this case.” Nursidi added,” ProFauna strongly recommends the government to put moratorium on Indonesian zoos. The government should not permit any new zoo and should instead focus on assisting and monitoring the present zoos”.
Editor’s Notes:
• For more information and images, please contact the International Communication Officer of ProFauna Indonesia, Butet Sitohang, international@profauna.org or mobile: +6281333899741
• ProFauna Indonesia (www.profauna.org) is a wildlife protection organization in Indonesia established since 1994. With the help of it volunteers all over Indonesia, ProFauna works through campaigns, education, trade survey, and wildlife rescue.
Sabtu, 22 Agustus 2009
SEA GAMES 2011
Panjat Tebing Bakal Dilombakan
FPTI News, Pengurus Besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (PB FPTI) akan mengusulkan cabang olahraga wall climbing ini bisa dipertandingkan pada SEA Games 2011 saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara pesta olahraga multievent antarnegara Asia Tenggara tersebut.
Ketua Bidang Kepelatihan PB FPTI, Priyanto Budi ketika mendampingi Presiden Panjat Tebing ASEAN, Maman Hermansyah meninjau venues di Semarang, mengatakan, FPTI akan melakukan sosialisasi cabang olahraga ini pada saat General Asembling yang berlangsung di Filipina, 7-8 Maret 2009.
Selama ini, cabang olahraga panjat tebing selalu menjadi cabang olahraga eksibishi yang tidak memperebutkan medali. Makanya, saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara SEA Games 2011 akan dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa dipertandingkan dan memperebutkan medali.
Ia menambahkan, kalau semuanya lancar tentunya Jawa Tengah akan menjadi tempat penyelenggara cabang olahraga wall climbing SEA Games 2011 karena di provinsi ini memiliki venues panjat tebing yang baru dan memiliki standar internasional.
Presiden Panjat Tebing ASEAN, Maman Hermansyah berada di Semarang untuk melihat venues yang dipersiapkan untuk penyelenggaraan kejuaraan panjat tebing ASEAN, 24-27 Juni 2009. “Melihat venues yang ada sekarang ini 90 persen kejuaraan antarnegara Asia Tenggara itu akan digelar di Semarang,” katanya.
Di samping venues yang bagus dan memenuhi syarat ini, kata dia, penunjukan Semarang sebagai tempat penyelenggara kejuaraan ASEAN mendatang karena PB FPTI melihat pembinaan cabang olahraga panjat tebing di Jawa Tengah cukup bagus terbukti atlet Jateng mampu meraih prestasi terbaik di tingkat nasional.
Bahkan, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII/2008 Kalimantan Timur, atlet panjat tebing Jawa Tengah berhasil meraih tiga medali emas. Prestasi ini cukup bagus mengingat pada pelaksanaan PON-PON sebelumnya gagal menjadi yang terbaik, dan hanya meraih medali perak dan perunggu.
Priyanto Budi menambahkan, pelaksanaan kejuaraan ASEAN ini menunggu bantuan dari pihak sponsor. “Kalau soal venues memang sudah tidak ada masalah, begitu mendapat sponsor, tentu akan langsung kita gelar di Semarang,” katanya.
Selain Semarang, sebenarnya alternatif lainnya adalah Surabaya. “Tetapi melihat venues dan pembinaan yang berhasil di Jateng, maka 90 persen kejuaraan ASEAN ini akan digelar di Semarang,” katanya.
Menurut dia, sampai kini sudah empat negara yang memastikan diri tampil pada kejuaraan wall climbing ASEAN, yaitu Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand, serta Indonesia sebagai tuan rumah.
Dalam kesempatan yang berbeda, Mayjen Hendardji mengatakan Panjat Tebing memiliki peluang menjadi tambang medali untuk menyumbangkan pundi-pundi medali emas bagi kontingen Indonesia pada Sea Games yang akan berlangsung di Indonesia. Demikian ungkapan Mayjen Hendardji Jendral berbintang 2 yang saat ini menduduki sebagai Asisten Pengamanan KASAD yang secara khusus datang ke Pekan Baru untuk menyampaikan makalah yang berjudul "System Kompetisi Yang Efektif" di depan peserta Rakernas FPTI 2009.
FPTI News, Pengurus Besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (PB FPTI) akan mengusulkan cabang olahraga wall climbing ini bisa dipertandingkan pada SEA Games 2011 saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara pesta olahraga multievent antarnegara Asia Tenggara tersebut.
Ketua Bidang Kepelatihan PB FPTI, Priyanto Budi ketika mendampingi Presiden Panjat Tebing ASEAN, Maman Hermansyah meninjau venues di Semarang, mengatakan, FPTI akan melakukan sosialisasi cabang olahraga ini pada saat General Asembling yang berlangsung di Filipina, 7-8 Maret 2009.
Selama ini, cabang olahraga panjat tebing selalu menjadi cabang olahraga eksibishi yang tidak memperebutkan medali. Makanya, saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara SEA Games 2011 akan dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa dipertandingkan dan memperebutkan medali.
Ia menambahkan, kalau semuanya lancar tentunya Jawa Tengah akan menjadi tempat penyelenggara cabang olahraga wall climbing SEA Games 2011 karena di provinsi ini memiliki venues panjat tebing yang baru dan memiliki standar internasional.
Presiden Panjat Tebing ASEAN, Maman Hermansyah berada di Semarang untuk melihat venues yang dipersiapkan untuk penyelenggaraan kejuaraan panjat tebing ASEAN, 24-27 Juni 2009. “Melihat venues yang ada sekarang ini 90 persen kejuaraan antarnegara Asia Tenggara itu akan digelar di Semarang,” katanya.
Di samping venues yang bagus dan memenuhi syarat ini, kata dia, penunjukan Semarang sebagai tempat penyelenggara kejuaraan ASEAN mendatang karena PB FPTI melihat pembinaan cabang olahraga panjat tebing di Jawa Tengah cukup bagus terbukti atlet Jateng mampu meraih prestasi terbaik di tingkat nasional.
Bahkan, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII/2008 Kalimantan Timur, atlet panjat tebing Jawa Tengah berhasil meraih tiga medali emas. Prestasi ini cukup bagus mengingat pada pelaksanaan PON-PON sebelumnya gagal menjadi yang terbaik, dan hanya meraih medali perak dan perunggu.
Priyanto Budi menambahkan, pelaksanaan kejuaraan ASEAN ini menunggu bantuan dari pihak sponsor. “Kalau soal venues memang sudah tidak ada masalah, begitu mendapat sponsor, tentu akan langsung kita gelar di Semarang,” katanya.
Selain Semarang, sebenarnya alternatif lainnya adalah Surabaya. “Tetapi melihat venues dan pembinaan yang berhasil di Jateng, maka 90 persen kejuaraan ASEAN ini akan digelar di Semarang,” katanya.
Menurut dia, sampai kini sudah empat negara yang memastikan diri tampil pada kejuaraan wall climbing ASEAN, yaitu Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand, serta Indonesia sebagai tuan rumah.
Dalam kesempatan yang berbeda, Mayjen Hendardji mengatakan Panjat Tebing memiliki peluang menjadi tambang medali untuk menyumbangkan pundi-pundi medali emas bagi kontingen Indonesia pada Sea Games yang akan berlangsung di Indonesia. Demikian ungkapan Mayjen Hendardji Jendral berbintang 2 yang saat ini menduduki sebagai Asisten Pengamanan KASAD yang secara khusus datang ke Pekan Baru untuk menyampaikan makalah yang berjudul "System Kompetisi Yang Efektif" di depan peserta Rakernas FPTI 2009.
SUMSEL JADI TUAN RUMAH PANJAT TEBING SEA GAMES 2011
FPTI News, Empat daerah yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Selatan ditunjuk menjadi tempat penyelenggaraan SEA Games 2011 yang akan mempertandingkan 30 cabang olahraga.
"Kami targetkan cabang yang akan dipertandingkan tidak lebih dari 30 cabang," kata Sekjen KONI Rosihan Arsyad kepada wartawan di sela-sela Rapat Konsultasi dengan empat daerah tuan rumah SEA Games 2011 di Jakarta, Kamis.
Hadir dalam acara itu KONI DKI Jakarta yang diwakili Sekum Dr. Syaifulloh dan Effendy Anas yang mewakili Pemda DKI, Kabid Binpres KONI Jabar H Toto Subroto dan Drs Rudy Apriliyanto (kepala Disorda) dan Sekum KONI Sumsel Denny Zaenal.
Rosihan mengatakan, rapat membahas daerah yang akan menjadi tempat penyelenggara cabang olahraga. KONI sudah menentukan Jakarta sebagai pembukaan, Sumsel untuk sepak bola, dan Jabar untuk cabang renang.
"Tiap daerah diharapkan berlomba-lomba meyakinkan pada kami tentang kesiapan mereka," katanya menjelaskan jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan pada SEA Games 2011 masih dapat berkurang.
Dengan dipercepatnya persiapan ajang multi event ini, menurut dia, daerah yang ditunjuk menjadi tuan rumah harus mempersiapkan paling tidak 15 hal yang harus dipenuhi berkaitan sebagai prasyarat penyelenggaraan tuan rumah, seperti venue, akomodasi hingga sarana dan prasarana.
"Kami akan meninjau venue-venue yang akan digunakan," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya mempersiapkan rencana untuk ajang ini sejak dini dengan sukses penyelenggaraan dan prestasi.
Dengan penyelenggaraan SEA Games 2011 ini, menurut dia, agar daerah yang ditunjuk sebagai tempat penyelenggara dapat memanfaatkan sebagai ajang promosi daerah dan menggalakkan bahwa Indonesia merupakan jantung dunia yang hutannya masih terjaga.
Berikut Daftar cabang yang akan dipertandingkan di Empat Daerah:
1. DKI Jakarta: Sepak bola, balap sepeda, futsal, pencak silat, tenis lapangan, tenis meja, bulutangkis, anggar, judo, layar, kempo, basket.
2. Jawa Barat: renang/selam, taekwondo, kano, layar, perahu naga, dansa, catur, voli pantai indoor, karate, boling, berkuda, balap sepeda/sepeda gunung, bisbol, sofbol.
3. Sumsel: sepak bola, gulat, senam, atletik, angkat berat, angkat besi, renang indah, polo air, panjat tebing.
4. Jawa Tengah: panahan, tinju, biliar, sepak takraw, menembak, biliar dan Para Games.
Sumber : antara.co.id
"Kami targetkan cabang yang akan dipertandingkan tidak lebih dari 30 cabang," kata Sekjen KONI Rosihan Arsyad kepada wartawan di sela-sela Rapat Konsultasi dengan empat daerah tuan rumah SEA Games 2011 di Jakarta, Kamis.
Hadir dalam acara itu KONI DKI Jakarta yang diwakili Sekum Dr. Syaifulloh dan Effendy Anas yang mewakili Pemda DKI, Kabid Binpres KONI Jabar H Toto Subroto dan Drs Rudy Apriliyanto (kepala Disorda) dan Sekum KONI Sumsel Denny Zaenal.
Rosihan mengatakan, rapat membahas daerah yang akan menjadi tempat penyelenggara cabang olahraga. KONI sudah menentukan Jakarta sebagai pembukaan, Sumsel untuk sepak bola, dan Jabar untuk cabang renang.
"Tiap daerah diharapkan berlomba-lomba meyakinkan pada kami tentang kesiapan mereka," katanya menjelaskan jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan pada SEA Games 2011 masih dapat berkurang.
Dengan dipercepatnya persiapan ajang multi event ini, menurut dia, daerah yang ditunjuk menjadi tuan rumah harus mempersiapkan paling tidak 15 hal yang harus dipenuhi berkaitan sebagai prasyarat penyelenggaraan tuan rumah, seperti venue, akomodasi hingga sarana dan prasarana.
"Kami akan meninjau venue-venue yang akan digunakan," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya mempersiapkan rencana untuk ajang ini sejak dini dengan sukses penyelenggaraan dan prestasi.
Dengan penyelenggaraan SEA Games 2011 ini, menurut dia, agar daerah yang ditunjuk sebagai tempat penyelenggara dapat memanfaatkan sebagai ajang promosi daerah dan menggalakkan bahwa Indonesia merupakan jantung dunia yang hutannya masih terjaga.
Berikut Daftar cabang yang akan dipertandingkan di Empat Daerah:
1. DKI Jakarta: Sepak bola, balap sepeda, futsal, pencak silat, tenis lapangan, tenis meja, bulutangkis, anggar, judo, layar, kempo, basket.
2. Jawa Barat: renang/selam, taekwondo, kano, layar, perahu naga, dansa, catur, voli pantai indoor, karate, boling, berkuda, balap sepeda/sepeda gunung, bisbol, sofbol.
3. Sumsel: sepak bola, gulat, senam, atletik, angkat berat, angkat besi, renang indah, polo air, panjat tebing.
4. Jawa Tengah: panahan, tinju, biliar, sepak takraw, menembak, biliar dan Para Games.
Sumber : antara.co.id
LOBY GAGALKAN SATWA LIAR HADIR DALAM KONSER MELLY.G BERHASIL
tanggal 19 Agutus 2009 kemarin telp masuk dan keluar di ProFauna Headquarter terus berdering mendesak Departemen kehutanan melalui direktur PPH (penyidikan & perlindungan Hutan) serta Dir KKh( Konservasi Keragaman Hayati) Dephut. meminta untuk mencabut izin penggunaan satwa liar pada Konser Melly Goeslow di Lapangan tennis Indoor senayan.
Laporan Team kami dari Jakarta Representatif menyampaikan bahwa siang hari seekor singa tampak di belakang panggung terlihat strees bersama pegawai TSI.
Upaya lobby terus berlanjut hingga pukul 22.00 yang ternyata para petugas Dephut telah turun kelapangan untuk mencabut izin penggunaan satwa liar yang di berikan kepada TSI untuk konser Melly Goeslow. upaya ini cukup diancungi jempol untuk para petugas kehutanan karena mereka bekerja dengan keras menentang penggunnan satwa liar dalam sebuah konser.
Kenapa Kami Protes, yang pasti salah satu itemnya adalah satwa liar lebih indah dialam dimana satwa yang digunakan untuk peragaan dapat menimbulkan stress berat dan ini dapat menyebabkan kematian pada satwa yang pasti ini dapat melanggar UU nio 18 tahun 2009 mengenai peternakan dan kesejahteraan hewan. dan PP no 9 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar pada item peragaan satwa.
Perlu diketahui bahwa kita sebagai manusia terkadang terlalu naif mengatakan atas nama seni, atas nama art namun justru melakukan penyisaan terhadap mahluk ciptaan tuhan! coba bayangkan suara deguman musik dengan soud system yang kita saja sebagai manusia sering menutup telinga, bagaimana dengan satwa liar yang berada pada suasan tersebut otomatis dia stress berat...!
Laporan Team kami dari Jakarta Representatif menyampaikan bahwa siang hari seekor singa tampak di belakang panggung terlihat strees bersama pegawai TSI.
Upaya lobby terus berlanjut hingga pukul 22.00 yang ternyata para petugas Dephut telah turun kelapangan untuk mencabut izin penggunaan satwa liar yang di berikan kepada TSI untuk konser Melly Goeslow. upaya ini cukup diancungi jempol untuk para petugas kehutanan karena mereka bekerja dengan keras menentang penggunnan satwa liar dalam sebuah konser.
Kenapa Kami Protes, yang pasti salah satu itemnya adalah satwa liar lebih indah dialam dimana satwa yang digunakan untuk peragaan dapat menimbulkan stress berat dan ini dapat menyebabkan kematian pada satwa yang pasti ini dapat melanggar UU nio 18 tahun 2009 mengenai peternakan dan kesejahteraan hewan. dan PP no 9 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar pada item peragaan satwa.
Perlu diketahui bahwa kita sebagai manusia terkadang terlalu naif mengatakan atas nama seni, atas nama art namun justru melakukan penyisaan terhadap mahluk ciptaan tuhan! coba bayangkan suara deguman musik dengan soud system yang kita saja sebagai manusia sering menutup telinga, bagaimana dengan satwa liar yang berada pada suasan tersebut otomatis dia stress berat...!
Kamis, 13 Agustus 2009
Biodata Atlet Fpti Kabupaten Bogor
Atlet Putra:
1. Tb. M Reza
2. Rizky
3. Ahmad Triyana
4. M. Rusly
5. N. Darucahyo
6. Addams Bramantio
7. M. Fakhry
8. Rizal
9. Fajar R
10. Bim Sigrid
11. Hery
12. Firman
13. Feri Febriani
14. Tb. Boy A
15. Syabudin
16. Reza M Nur
17. Indra Yoga
18. Dwi Kristianto
19. Elyanto Tindige
20. Chivly Claudia
21. Arfan
Atlet Putri:
1. Ray Emelia
2. Cika
3. Leni Nursari
4. Mutia Aristiani
5. Siti Qoriah
6. Anisa Syahfitri
7. Dira Aprilia
8. Tari Permatasari
9. Gulba
10. Triwulandari
11. Nurdiana Haerani
12. Dieni Hanifah
13. Lia M Dahlia
14. Evi Latifah
15. Triyanti
16. Halimah
17. Hani Khoirunis
1. Tb. M Reza
2. Rizky
3. Ahmad Triyana
4. M. Rusly
5. N. Darucahyo
6. Addams Bramantio
7. M. Fakhry
8. Rizal
9. Fajar R
10. Bim Sigrid
11. Hery
12. Firman
13. Feri Febriani
14. Tb. Boy A
15. Syabudin
16. Reza M Nur
17. Indra Yoga
18. Dwi Kristianto
19. Elyanto Tindige
20. Chivly Claudia
21. Arfan
Atlet Putri:
1. Ray Emelia
2. Cika
3. Leni Nursari
4. Mutia Aristiani
5. Siti Qoriah
6. Anisa Syahfitri
7. Dira Aprilia
8. Tari Permatasari
9. Gulba
10. Triwulandari
11. Nurdiana Haerani
12. Dieni Hanifah
13. Lia M Dahlia
14. Evi Latifah
15. Triyanti
16. Halimah
17. Hani Khoirunis
Kamis, 06 Agustus 2009
Porkab 2009
Panjat Tebing Bakal Dilombakan
Fpti News, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) bersama KONI Kabupaten Bogor akan menggelar Porkab (Pekan Olahraga Kabupaten) VIM/2009. Porkab rencana akan dibuka pada tanggal 28 Oktober, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Dalam pelaksanaan Porkab rencananya akan mempertandingkan 15 cabor, yang terdiri dari cabang wajib, pilihan dan eksebisi. Enam cabang wajib yakni atletik, bola voli, catur, pencak silat, sepakbola taekwondo, tarung derajat" dan tenis lapangan. Sedangkan cabang eksebisi adalah panjat tebing, drum band dan menembak.
Hampir semua cabor akan dipertandingkan di komplek Pemda Kabupaten Bogor, sedangkan cabor atletik, basket dan catur dilaksanakan diluar. Dalam porkab nanti pertandingan kelas beregu ditiadakan, yang ada hanya tiga kelas, perorangan, ganda dan mix doubel (ganda campuran).
Cabor Panjat tebing yang rencananya akan mempertandingkan 10 nomor kini diubah menjadi 6 nomor yang diantaranya yaitu lead perorangan putra, lead perorangan putri, speed perorangan putra, speed perorangan putri, boulder perorangan putra, dan boulder perorangan putri.
Ikhwal pembatasan usia peserta Porkab 2009 maksimal 19 Th akan membuat pengurus cabang Fpti Kabupaten Bogor bekerja lebih ekstra dalam merekrut calon atlet ditiap kecamatan, karena atlet yang di bina saat ini sudah difokus kepada Porda XI 2010, yang usianya rata-rata 21 Th.
Peraturan utama yang harus dipatuhi untuk menjadi peserta Porkab 2009 adalah domisili yang tercatat sebagai warga Kabupaten Bogor yang disesuaikan dengan kecamatan masing-masing. Sedangkan bagi atlet pindahan dari kecamatan lain, minimal sudah enam bulan terhitung sebelum pelaksanaan porkab.
Melalui Porkab 2009 diharapkan para pengcab olahraga agar lebih berhati-hati dengan atlet yang berada di daerah perbatasan. Perekrutan harus dilakukan sejak dini, jangan sampai atlet potensi asal kabupaten Bogor berjuang untuk daerah lain (Kens).
Rabu, 27 Mei 2009
Scorsing Menghambat Pembinaan Atlet
Fpti Kab. Bogor Ajukan Surat Keberatan Kepada PP Fpti
Fpti News, Scorsing yang diberikan kepada Pengurus Daerah Fpti Jawa Barat Oleh Pengurus Pusat Fpti berdampak buruk pada pembinaan atlet panjat tebing di Jawa Barat, pasalnya pada salahsatu butir sanksi yang diberikan adalah “atlet asal Jawa Barat atau yang mewakili Jawa Barat tidak dapat mengikuti kejuaraan resmi yang diselenggarakan oleh PP Fpti”.
Hal tersebut tentunya sangat menghambat proses pembinaan atlet panjat tebing di seluruh Jawa Barat, seharusnya kesalahan yang dilakukan oleh Pengurus Daerah Jawa Barat tidak berimbas kepada atlet, sehingga apapun permasalahannya proses pembinaan atlet harus tetap berjalan, apalagi kita akan menghadapi Porda XI Jabar pada Juni 2010.
Scorsing yang dikeluarkan oleh PP Fpti karena Pengurus Daerah Jawa Barat dianggap telah melanggar ketentuan yang berlaku dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Fpti, yaitu tidak menghadiri Rakernas Fpti yang diselenggarakan pada bulan Februari 2009 lalu di Bengkalis.
Khawatir proses pembinaan atlet semakin terhambat, Pengurus Cabang Fpti Kabupaten Bogor melayangkan surat kepada PP Fpti perihal permohonan pencabutan scorsing (senin 25/5/09). Surat yang bernomor 41/Pengcab/-FPTI/Kab.Bgr/V/2009 ditembuskan kepada Pengda Fpti Jawa Barat dan Pengcab se Jawa Barat dengan harapan para pihak yang dirugikan melakukan upaya pencabutan scorsing tersebut.
Alasan utama yang tertera dalam surat permohonan pencabutan scorsing dikarenakan sanksi administratif yang diberikan oleh Pengurus Pusat kepada Pengurus Daerah Fpti Jawa Barat tidak seharusnya berdampak kepada terhambatnya perkembangan serta pembinaan atlet yang dilaksanakan oleh Pengurus Cabang diseluruh Jawa Barat (Kens).
Fpti News, Scorsing yang diberikan kepada Pengurus Daerah Fpti Jawa Barat Oleh Pengurus Pusat Fpti berdampak buruk pada pembinaan atlet panjat tebing di Jawa Barat, pasalnya pada salahsatu butir sanksi yang diberikan adalah “atlet asal Jawa Barat atau yang mewakili Jawa Barat tidak dapat mengikuti kejuaraan resmi yang diselenggarakan oleh PP Fpti”.
Hal tersebut tentunya sangat menghambat proses pembinaan atlet panjat tebing di seluruh Jawa Barat, seharusnya kesalahan yang dilakukan oleh Pengurus Daerah Jawa Barat tidak berimbas kepada atlet, sehingga apapun permasalahannya proses pembinaan atlet harus tetap berjalan, apalagi kita akan menghadapi Porda XI Jabar pada Juni 2010.
Scorsing yang dikeluarkan oleh PP Fpti karena Pengurus Daerah Jawa Barat dianggap telah melanggar ketentuan yang berlaku dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Fpti, yaitu tidak menghadiri Rakernas Fpti yang diselenggarakan pada bulan Februari 2009 lalu di Bengkalis.
Khawatir proses pembinaan atlet semakin terhambat, Pengurus Cabang Fpti Kabupaten Bogor melayangkan surat kepada PP Fpti perihal permohonan pencabutan scorsing (senin 25/5/09). Surat yang bernomor 41/Pengcab/-FPTI/Kab.Bgr/V/2009 ditembuskan kepada Pengda Fpti Jawa Barat dan Pengcab se Jawa Barat dengan harapan para pihak yang dirugikan melakukan upaya pencabutan scorsing tersebut.
Alasan utama yang tertera dalam surat permohonan pencabutan scorsing dikarenakan sanksi administratif yang diberikan oleh Pengurus Pusat kepada Pengurus Daerah Fpti Jawa Barat tidak seharusnya berdampak kepada terhambatnya perkembangan serta pembinaan atlet yang dilaksanakan oleh Pengurus Cabang diseluruh Jawa Barat (Kens).
Minggu, 10 Mei 2009
Profil Chivly Claudia Halada

Nama Lengkap : Chivly Claudia Halada
Nama Panggilan : Chivly
Tempat/Tgl Lahir : Tungoi 09 November 1987
Alamat Jelas : Asrama Yonif Linud 328 Cilodong
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kategori : Speed
Pekerjaan : Anggota TNI AD
FPTI News, Chivly merupakan atlet pendatang baru pada cabang olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor, keterlibatan Chivly dalam dunia panjat tebing belum tergolong lama, namun akibat kegigihannya dalam berlatih ia mampu menjadi pemanjat tercepat dikalangan militer tingkat nasional.
Saat ini Chivly tergabung dengan Fpti Kabupaten Bogor, jika melihat performance pemilik nama lengkap Chivly Claudia Halada saat ini tidak menutup kemungkinan ia bisa menjadi lapis pertama atlet speed Fpti Kabupaten Bogor yang bertanding pada ajang Porda XI 2010 di Kabupaten bandung.
Kehadiran Chivly di Kabupaten Bogor diharapkan selain dapat memperkuat kontingen Kabupaten Bogor pada cabang olahraga panjat tebing juga dapat memacu pemanjat muka lama pada nomor kecepatan (Speed) agar lebih giat berlatih untuk persiapan seleksi tim Porda XI, mengingat kondisi (Pemula) pemanjat muka lama memburuk sejak beberapa minggu terakhir.
Untuk menghadapi Porda XI, Fpti Kabupaten Bogor hanya membutuhkan 3 orang atlet untuk nomor speed putra, sedangkan yang tersedia saat berjumlah 6 orang. Artinya akan terjadi persaingan yang ketat pada nomor speed putra, maka diharapkan masing-masing atlet menunjukan kualitas sebaik mungkin.
Chivly merupakan atlet binaan Fpti Kabupaten Bogor yang prestasinya melesat cepat. Profesinya sebagai anggota Tim Pendaki serbu TNI AD Yonif Linud 328 Cilodong membuat dirinya semakin terlatih dan memiliki sikap disiplin yang tinggi.
Tidak banyak pengalaman kompetisi yang diikuti oleh pria kelahiran Tungoi 09 November 1987, tetapi namanya menjadi populer dikalangan militer ketika ia menjadi juara pertama speed pada ajang Kejurnas panjat tebing antar TNI dan Polri Piala Kepala Staf Angkatan Darat III (Kasad) di Mako Kopassus Cijantung tgl 24-29 Maret 2009.
Saat ini serdadu berpangkat Prada dilepas tugaskan sementara dari kesatuan untuk mengikuti pemusatan latihan di Fpti Kabupaten Bogor, dengan harapan ia terpilih menjadi tim Porda XI. Pada kesempatan simulasi Porda XI di Karawang (5-8/5/09) Chivly mampu menempati peringkat ke tiga pada nomor perorangan speed putra (kens).
Rabu, 06 Mei 2009
Status Nurhalimah Dipertanyakan

Kristy Wenas
" Nurhalimah Sudah mengundurkan diri namun tetap diberangkatkan simulasi Porda XI"
FPTI News, Pembinaan atlet panjat tebing di Kabupaten Bogor diharapkan tidak berdasarkan suka gak suka terhadap atlet, maupun pengurus. Hal tersebut diungkapkan biro pelatih cabang Fpti Kabupaten Bogor Kristy Wenas disela-sela pemberangkatan 8 orang atlet untuk mmengikuti simulasi Porda XI di sekretariat Fpti Kabupaten Bogor selasa (4/509).
Tercantumnya nama Nurhalimah pada jajaran atlet Kabupaten Bogor yang mengikuti simulasi Porda XI di Karawang (5-10/5/09) mendapat kecaman dari sejumlah atlet dan pengurus. Pasalnya, sebulan sebelumnya nurhalimah telah melayangkan surat pengunduran dirinya dari jajaran atlet panjat tebing Kabupaten Bogor.
Tidak hanya itu, ucapan kurang menyenangkan juga melengkapi isi surat pengunduran diri yang dilengkapi dengan meterai 5000 tersebut. Perihal surat pengunduran diri Nurhalimah dari jajaran atlet panjat tebing Kabupaten Bogor hingga kini belum mendapat jawaban, namun ia tetap diberangkatkan untuk mengikuti simulasi Porda XI.
Anehnya dua minggu setelah menyampaikan surat pengunduran diri, Nurhalimah kembali hadir tiap jam latihan di Fpti Kabupaten Bogor, dengan wajah tak berdosa ia meminta izin untuk bergabung latihan. Setelah dua minggu bergabung latihan ia langsung mendapat kesempatan mengikuti simulasi Porda XI di karawang.
Hal tersebut menimbulkan pertanyaan kepada pelatih Cabang Kabupaten Bogor kristy Wenas yang memilih Nurhalimah untuk mengikuti simulasi tersebut, apakah ini karena fakor lain, atau murni untuk pembinaan? Tetapi ini menjadi aneh, ketika status Nurhalimah bisa dibilang ngegantung, namun seolah Fpti kabupaten Bogor tidak dapat memberikan ketegasan.
Hal ini jelas berpengaruh kepada mental para atlet panjat tebing Kabupaten Bogor, dan dikhawatirkan kedepannya para atlet yang lain menganggap remeh kepengurusan Fpti Kabupaten Bogor yang dengan mudah dapat dipermainkan. Bukan tidak mungkin prilaku Nurhalimah dapat di tiru oleh atlet-atlet yang lainnya karena seolah Fpti kabupaten Bogor takut kehilangan atlet.
Menurut Oelle, kita harus objektif dalam melakukan pembinaan terhadap atlet, siapapun yang mampu bersaing dan masih mau bergabung dengan kita kenapa enggak, terkait permasalahan non teknis anggap saja itu adalah suatu proses pendewasaan yang harus ditanggapi dengan bijak.
“Setiap atlet memiliki nilai plus dan minus dalam permasalahan teknis dan non teknis yang berkembang dikalangan atlet panjat tebing kabupaten bogor, diharapkan didalam membangn sebuah organisasi bukan bberdasrkan like and dislike, atas dasar sentimen dan sinisme, tetapi harus diperthatikan sisi objektivitas. Jika memang nurhalimah bisa menunjukan kualitas dan bisa merubah atas kehilafan yang ia lakukan tidak menutup kemungkinan untuk tetap dipertahankan” Kata Kristy (kens)
Senin, 04 Mei 2009
Simulasi Porda XI Jabar 2010

Foto Bersama Atlet Fpti Kabupaten Bogor Yang Akan Bertanding Pada Ajang Simulasi Porda XI Jabar. Pada Kesempatan Ini Fpti kabupaten Bogor Mengirimkan 8 Orang Atlet, Yang Diantaranya 4 Orang Atlet Putri, Dan 4 Orang Atlet Putra.
FPTI News, Hari ini (4/5/09) Fpti Kabupaten Bogor mengirimkan atlet binaannya untuk mengikuti simulasi Porda XI Jabar 2010 yang diselenggarakan di Kabupaten Karawang pada tanggal 5-10 Mei 2009. Keikutsertaan simulasi ini berdasarkan surat undangan dari Koni Jawa Barat berkaitan dengan pelaksanaan Porda XI yang akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang.
Selain simulasi, dalam pertemuan ini ada hal-hal yang ingin disampaikan oleh Koni Jabar kepada para Pengurus Cabang panjat tebing yang diantaranya yaitu mengenai pembatasan usia dan pengurangan nomor pertandingan pada cabang olahraga panjat tebing. Jika sebelumnya terdapat 15 nonor yang dilombakan, rencananya akan dikurangi menjadi 12 nomor.
Keputusan ini tentunya belum mendapat kepastian, rencananya akan disampaikan kepada perwakilan dari pengurus cabang masing-masing di sela-sela pelaksanaan simulasi Porda ini. Gambaran nomor yang akan dikurangi yaitu ganda campuaran pada kategori lead, speed, dan boulder. Artinya jika nomor tersebut dikurangi maka cabang olahraga panjat tebing hanya memperebutkan 12 medali.
Menyinggung kesiapan atlet Fpti kabupaten Bogor yang bertanding pada simulasi Porda XI ini, Biro pelatih cabang Kristy Wenas yang pada kesempatan ini mendampingi para atletnya mengatakan akan tampil sebaik mungkin pada simulasi ini. "Selain memenuhi undangan dari Koni Jawa Barat, kegiatan ini juga sebagai ajang sosialisasi para atlet" kata Kristy.
8 atlet yang diberangkatkan diantaranya yaitu Halimah, Nurdiana, Evi Latifah, dan Dahlia. Sedangkan untuk yang putra yaitu Indra Yoga, Dwi Kristianto, Elly Tindige, dan Chivly Claudia (Kens).
Sabtu, 11 April 2009
Kesederhanaan Tebing Kelapa Nunggal

FPTI News, Bagi para pemanjat tebing di wilayah Jabodetabek,tebing kelapa nunggal sudah tidak asing lagi. Meskipun tebing kelapa nunggal penuh dengan kesederhanaan, namun diantara tebing-tebing yang biasa dijadikan untuk sarana latihan panjat tebing terdapat jalur yang variatip yang bisa digunakan untuk pemanjat pemula maupun profesional.
Tebing Kelapa Nunggal berada di wilayah timur Kabupaten Bogor, tepatnya sebelah selatan kantor Kecamatan Kelapa Nunggal, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 90-an tebing kelapa nunggal sudah banyak dikunjungi, baik untuk latihan panjat tebing maupun latihan turun tebing. Hingga saat ini pada setiap hari libur tebing kelapa nunggal tidak luput dari pengunjung.
Jalur menuju tebing yang paling mudah diakses yaitu melalui jalan raya narogong, dan masuk gang sebelah Polsek Kelapa Nunggal. Kondisi jalan menuju tebing adalah batuan kapur yang bercampur tanah merah akan mewarnai roda kendaraan yang kita gunakan ketika hujan turun, akibat aktivitas truck pengangkut batu kapur yang melintas dilokasi ini membuat kondisi jalan rusak parah.
Bagi para pelancong yang berasal dari wilayah Jabodetabek biasanya banyak yang menggunakan kendaraan roda dua untuk mengunjungi lokasi ini, karena selain praktis, penggunaan kendaraan roda dua lebih ekonomis. Jika menggunakan angkutan umum,untuk tiba di tebing kelapa nunggal bisa menggunakan jasa ojeg atau menumpang truck pengangkut batu kapur yang beroperasi selama 24 jam.
Ada berberapa tebing yang dapat dilakukan untuk aktivitas panjat tebing, diantaranya yaitu, tebing luar, tebing dalam, dan tebing putih. Untuk kali ini kami memilih tebing dalam kelapa nunggal, karena selain memiliki bentuk yang cukup ekstreme, aktivitas pemanjatan di tebing ini terhindar dari sengatan matahari.
Tebing yang kami pergunakan saat ini lokasinya agak kedalam dari jalan, berbeda dengan tebing depan yang lokasinya persis dipinggir jalan. Sedangkan tebing putih berada agak kedalam dari jalan, tapi lokasi tebing putih terlihat jelas dari jalan. Dasar penamaan tebing dalam dan tebing depan diambil dari lokasinya yang berada di depan dan didalam, sedangkan tebing putih diambil dari warna tebing yang putih.
Tak jauh dari tebing dalam, terdapat sebuah warung yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Tetapi biasanya para pemanjat yang bermalam dilokasi ini hanya memanfaatkan air dari sumur yang berada dekat warung tersebut. Cukup berbicara dengan pemilik warung, hidangan makan malam dan makan siang dapat kita peroleh dari warung ini.
Terdapat beberapa jalur pemanjatan di tebing dalam kelapa nunggal yang memfasilitasi penggemar olahraga panjat tebing, diantaranya yaitu Jalur astaga, jalur kampret kiri, jalur kampret lurus, juwita, anjing, monyet, bismillah, serta jalur-jalur pendek lainnya (boulder). Pada hampir semua jalur merupakan overhang yang minim pegangan dengan ketinggian rata-rata sekitar 1 pitch (Kens).
Rabu, 08 April 2009
FPTI Kabupaten Bogor
Barometer Pengembangan Olahraga Panjat Tebing Di Jawa Barat
FPTI News, Federasi Panjat Tebing Indonesia Kabupaten Bogor merupakan salahsatu pengurus cabang yang berada di bawah Pengurus Daerah Jawa Barat, yang sejak tahun 1990an sudah eksis di Kabupaten Bogor. Namun setelah lama vakum akhirnya organisasi ini kembali didirikan pada priode kedua tanggal 9 mei 2005 di Cibinong.
Berdirinya FPTI Kabupaten Bogor tidak terlepas dari dukungan para pecinta olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor serta sederet nama-nama para pendiri yang diantaranya adalah Dondi Raharjo (Jajo), dan Tb. Luthfie Syam (Luthfie) ialah orang yang mendirikan FPTI Kabupaten Bogor dan hingga kini turut aktif dalam mengembangkan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor.
Sampai dengan saat ini FPTI Kabupaten Bogor tetap eksis dalam menjalankan kegiatan-kegiatan, baik itu petualangan, pembinaan prestasi maupun memasyarakatkan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor. FPTI Kabupaten Bogor dalam menjalankan program kerja dibantu oleh para anggotanya, yaitu club-club pecinta alam yang dengan sengaja mendaftarkan diri menjadi anggota FPTI.
Kegiatan panjat tebing di Kabupaten Bogor merupakan wujud nyata dari dinamika penggiat alam terbuka di Kabupaten Bogor yang dengan sadar menghimpun dirinya dalam berbagai organisasi yang dalam aktivitasnya mengandung unsur kegiatan panjat tebing, maka dari itu perlu adanya keteraturan dan kesatuan arah gerak kegiatan panjat tebing secara umum di seluruh wilayah Kabupaten Bogor khususnya.
Panjat tebing merupakan salah satu olahraga yang mempunyai unsur petualangan dan tantangan, olah raga ini mulai dikenal di Indonesia sejak awal tahun 1980an, dan pada saat ini olahraga panjat tebing sudah dikenal dikalangan luas bahkan merupakan salahsatu olah raga yang di lombakan pada Pekan Olahraga Nasional.
Dalam kegiatan olahraga panjat terbagi 3, yaitu panjat tebing pendidikan, panjat tebing prestasi dan panjat tebing rekreasi. Panjat tebing pendidikan yaitu diarahkan sebagai satu kesatuan yang sistematis dan berkesinambungan dengan sistem pendidikan nasional, yang dapat dilakukan pada jalur formal dan non formal melalui kegiatan intra kulikuler dan ekstra kulikuler.
Panjat tebing prestasi yaitu kegiatan yang dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai prestasi pada tingkat daerah, nasional dan internasional yang merupakan hak semua negara yang dilaksanakan melalui pembinaan dan pengembangan secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan yang bertujuan menumbuhkan, menjaga, dan meningkatkan prestasi.
Sedangkan dalam kegiatan panjat tebing rekreasi lebih diarahkan untuk memasalkan kegiatan panjat tebing alam sebagai upaya mengembangkan kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan, kebugaran, kegembiraan dan hubungan sosial. Kegiatan petualangan panjat tebing semacam ini juga diharapkan dapat meningkatkan kekayaan budaya yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan melestarikan alam.
Jenjang keorganisasian FPTI mulai dari tingkat Nasional, tingkat Provinsi dan Daerah seperti Kabupaten dan Kotamadya. Pengurus tingkat Nasional disebut dengan Pengurus Pusat (PP) yang membawahi Pengurus Daerah (Pengda) pada setiap provinsi, dan Pengurus Daerah membawahi Pengurus Cabang (Pengcab) setiap Kabupaten dan Kotamadya.
Sedangkan Pengurus Cabang, seperti FPTI Kabupaten Bogor maupun Pengurus Cabang lainnya mempunyai anggota yaitu organisasi pecinta alam dari berbagai tingkatan yang mendaftarkan diri sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FPTI.
Tujuan akhir dari kegiatan panjat tebing di Kabupaten Bogor adalah turut membangun dan mengangkat harkat martabat Daerah melalui kegiatan panjat tebing. Berkaitan dengan hal tersebut insan panjat tebing di Kabupaten Bogor sepakat dan ketetapan hati untuk terus mengembangkan olahraga panjat tebing melalui Federasi Panjat Tebing Indonesia Pengurus Cabang Kabupaten Bogor.
Upaya-upaya untuk mengangkat citra Kabupaten Bogor sebagai barometer pengembangan dan pembinaan olahraga panjat tebing berbasis potensi Daerah yang handal dan profesional di Jawa Barat terus dilakukan, salahsatunya yaitu dengan membuka sekolah panjat tebing untuk anak-anak (Spider Climbing School) yang penanganannya dilakukan secara profesional.
Maraknya perkembangan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor kini bukan hanya konsumsi orang dewasa saja, tidak dapat dipungkiri bahwa kini anak-anak kecil pun mulai tertarik dengan kegiatan yang penuh tantangan ini. Kegiatan panjat tebing yang di pandu oleh instruktur khusus adalah salahsatu solusi bagi anak-anak yang mempunyai minat dan bakat memanjat.
Pada tahun 2006 lalu Federasi Panjat Tebing Indonesia Pengurus Cabang Kabupaten Bogor membuka sekolah panjat tebing (Spider Climbing School) yang programnya dirancang untuk anak-anak mulai dari usia 9 tahun sampai 14 tahun, kegiatan ini dilakukan guna mewadahi para anak-anak yang ingin berprestasi maupun hanya sekedar menyalurkan hobi.
Seperti yang dikatakan Biro Pelatih cabang FPTI Kabupaten Bogor, Kristy Wenas, bahwa gerakan yang diajarkan kepada anak untuk dapat memanjat tebing yaitu melalui gerakan dasar yang dilatih untuk mampu melakukan keterampilan fisik mulai dari menggenggam, meraih, kemudian dilanjutkan dengan latihan yang lebih kompleks seperti gerakan-gerakan memanjat tebing atau dinding dengan tingkat kesulitan dan karakter tebing yang berbeda-beda.
Dengan mengikuti Spider Climbing School akan banyak pelajaran yang didapat oleh anak-anak, baik yang secara tersistem maupun yang otomatis. Selain diajarkan bagaimana cara memanjat yang benar dan aman, siswa juga dikenalkan dengan perlengkapan memanjat dinding maupun tebing dan kegunaannya, sehingga diharapkan melalui sekolah panjat tebing yang berbasis pendidikan ini mampu mencetak pemanjat handal dan profesional.
Spider Climbing School di pusatkan di lapangan Tegar Beriman komplek Pemda Kabupaten Bogor, hanya dengan mengeluarkan uang pendaftaran Rp. 50.000 dan iuran bulanan Rp. 35.000/anak, maka siswa dapat mengikuti latihan sebanyak tiga kali pertemuan dalam satu minggu selama 3 jam, dan jadwal latihan disesuaikan dengan kegiatan siswa.
Kebugaran sangat penting bagi anak, karena kebugaran dapat menunjang anak untuk melakukan aktifitas dan bereksplorasi. Kebugaran dapat diperoleh dengan cara mengikuti sekolah panjat tebing. Anak tidak dipaksakan untuk memanjat tebing kecuali atas dasar keinginannya sendiri. Dan di dalam melakukan kegiatan apapun apabila dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan, maka di situlah proses tumbuh kembang anak dapat ditingkatkan secara optimal.
Dalam bidang pembinaan dan prestasi, FPTI Kabupaten Bogor juga terus melakukan upaya-upaya atas kemampuan potensi daerah guna mengangkat prestasi panjat tebing di kancah nasional dan Internasional. Upaya tersebut dilakukan dengan cara memfasilitasi para atlet binaan dalam proses latihan yang di tangani secara professional dan berkelanjutan.
Hingga saat ini FPTI Kabupaten Bogor terus membina atlet untuk bersaing pada ivent-ivent tingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Pada kejuaraan daerah tingkat Jawa Barat 2008 yang diselenggarakan di Kabupaten Bekasi atlet junior binaan FPTI Kabupaten Bogor mampu bersaing dan mendapat gelar juara umum dengan perolehan 4 emas, 3 perak, dan 2 perunggu.
Pada kejuaraan tingkat Nasional piala Bupati Batara Open Wall Climbing yang diselenggarakan di Muara Teweh Kalimantan tengah tanggal 30 Oktober-1 November 2008, atlet binaan FPTI Kabupaten Bogor merajai pada nomor lead umum putra dan speed umum putra, atas nama Syabudin dan Indra Yoga meraih gelar juara satu pada ivent tersebut.
Selain kejuaraan tingkat Daerah dan tingkat Nasional, atlet binaan FPTI kabupaten Bogor juga mampu bersaing pada ajang kejuaraan tingkat Asia yang di selenggarakan di Pulau Dewata Bali tahun 2008, atas nama Tb Boy meraih medali perunggu pada nomor lead youth A putra, dan atas nama Bim Sigrid menempatkan peringkat ke empat. Sedangkan pada ajang Asian Youth Cup yang diselenggarakan di Yamaguci Jepang, Tb Boy meraih peringkat ke empat.
Pembinaan atlet panjat tebing di Kabupaten Bogor tidak terlepas dengan fasilitas latihan yang memadai. Sarana panjat dinding yang telah di sediakan oleh FPTI Kabupaten Bogor yaitu di sudut lapangan tegar beriman komplek Pemda Kabupaten Bogor. Dinding yang mempunyai tinggi 15 meter dan lebar 10 meter ini terbuat dari fiberglas mempunyai kemiringan yang variatif, pada dinding bagian tengah biasa digunakan untuk pemanjatan tingkat kesulitan (Lead), dan dua jalur bagian kiri dan kanan untuk jalur pemanjatan tingkat kecepatan (speed).
Untuk kepentingan segala aktivitas FPTI Kabupaten Bogor, dibawah kontruksi bangunan wall climbing tersebut tersedia kantor sekretariat FPTI Kabupaten Bogor yang dilengkapi dengan ruang tamu, ruang kerja, dapur, kamar mandi, loker atlet, dan tempat penyimpanan alat-alat panjat tebing. Ruangan ini juga yang dipergunakan untuk kegiatan sekolah panjat tebing dan ruang rapat. Aktivitas FPTI Kabupaten Bogor di tempat ini 24 jam.
Pada sisi bagian kanan kontruksi wall, terdapat jalur pemanjatan yang terbuat dari kayu, yang mempunyai lebar 3 meter dan tinggi 15 meter. Selain digunakan untuk memanjat, pada dinding bagian ini juga biasa digunakan untuk latihan turun tebing (Refeling), dan latihan-latihan pertolongan pada ketinggian (Vertical Rescue) oleh perusahaan, instansi, organisasi sosial, maupun pecinta alam.
Untuk antisipasi hujan turun saat latihan, pada bagian belakang dinding dibuat sarana pemanjatan jalur pendek (Boulder) yang terbuat dari papan multiplek. Sarana bouldering ini mempunyai lebar 6 meter dan tinggi 4 meter, dengan karakter yang cukup ekstreme, yaitu overhang dan roop. Aktivitas bouldering di tempat ini biasanya dilakukan saat hujan atau malam hari.
Dalam upaya mengembangkan sarana dan prasarana olahraga panjat tebing yang representatif di wilayah Kabupaten Bogor, pada tahun 2006 lalu FPTI Kabupaten Bogor membangun sarana latihan panjat dinding di Aula Kantor Kecamatan Cileungsi. Dinding panjat indoor yang terbuat dari multiplek ini mempunyai tinggi 10 meter dan lebar 10 meter. Meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi pada dinding ini terdapat kemiringan yang cukup menantang.
Perkembangan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor tentunya tidak terlepas dari sarana latihan yang mendukung. Wall climbing milik Yayasan Budiniah Karanggan Citeureup, wall climbing Pt. Antam, wall climbing Kinasih, serta keberadaan wall climbing milik Universitas Djuanda, Ciawi Bogor juga banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor khususnya.
Selain itu, upaya penggalian potensi, pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian tebing alam di wilayah Kabupaten Bogor terus dilakukan, selain tebing Ciampea dan tebing kelapa Nunggal juga masih banyak terdapat tebing yang layak dijadikan sarana panjat tebing alam, salahsatunya yaitu tebing batu yang berada di wilayah Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor.
Bukit dan gunung yang memiliki sudut kemiringan bervariasi di wilayah Kabupaten Bogor merupakan potensi alam yang indah sebagai ciptaan Allah SWT. Selain tidak kalah menarik dengan bukit-bukit dan gunung di daerah lain, dengan ketinggian 875 m diatas permukan laut (dpl), Gunung Batu memiliki potensi sebagai ajang menguji kemampuan memanjat tebing alam.
Menyadari akan tugas dan tanggungjawab dalam menyumbangkan peranannya sebagai komunitas yang bertanggungjawab langsung dengan pengetahuan olahraga panjat tebing, maka FPTI kabupaten Bogor memandang perlu untuk melestarikan tebing-tebing di Kabupaten Bogor sebagai sarana olahraga panjat tebing dan konservasi.
Sejak tahun 2006 hingga saat ini, FPTI Kabupaten Bogor masih konsentrasi pada salahsatu tebing batu di wilayah Sukamakmur. Tebing tersebut rencananya akan dilestarikan dan dimanfaatkan sebagai sarana olahraga panjat tebing. Upaya-upaya yang telah dilakukan adalah sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan pembuatan pondok pemanjat di sekitar tebing.
Sebelumnya banyak masyarakat yang berprofesi sebagai penambang batu di tebing tersebut, selain menambang batu juga ada sebagian masyarakat yang membabat habis tumbuhan-tumbuhan penahan erosi dan menjadikan lokasi sekitar tebing sebagai perkebunan. Jenis batu pada tebing-tebing di wilayah sukamakmur kebanyakan batuan andesit, tetapi tidak semua tebing di sukamakmur layak dijadikan sarana panjat tebing, karena ada juga yang batuannya muda dan mudah pecah.
Pada tahun 2009 ini rencananya pembuatan jalur-jalur pemanjatan di tebing batu Sukamakmur akan segera direalisasikan, sebelumnya pada akhir tahun 2008 FPTI Kabupaten Bogor telah melakukan penanaman 200 bibit tanaman keras yang sampai saat ini masih dalam perawatan. Bibit tanaman tersebut di tanam di sekitar tebing yang gunanya untuk penyangga dan penahan erosi.
Selain itu, saung berukuran 4x6 yang saat ini sudah berdiri tegak tidak jauh dari dinding dapat digunakan. Pemandangan sekitar nampak elok dengan hiasan kabut tebal yang sesekali turun. Bangunan dari kayu yang berdiri diatas tanah seluas 1,5 hektare ini rencananya akan dijadikan base camp selama pembuatan jalur dan kegiatan FPTI Kabupaten Bogor di tebing batu 1 yang berdekatan dengan wana wisata Cipamingkis, Kecamatan Sukamakmur (Kens).
FPTI News, Federasi Panjat Tebing Indonesia Kabupaten Bogor merupakan salahsatu pengurus cabang yang berada di bawah Pengurus Daerah Jawa Barat, yang sejak tahun 1990an sudah eksis di Kabupaten Bogor. Namun setelah lama vakum akhirnya organisasi ini kembali didirikan pada priode kedua tanggal 9 mei 2005 di Cibinong.
Berdirinya FPTI Kabupaten Bogor tidak terlepas dari dukungan para pecinta olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor serta sederet nama-nama para pendiri yang diantaranya adalah Dondi Raharjo (Jajo), dan Tb. Luthfie Syam (Luthfie) ialah orang yang mendirikan FPTI Kabupaten Bogor dan hingga kini turut aktif dalam mengembangkan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor.
Sampai dengan saat ini FPTI Kabupaten Bogor tetap eksis dalam menjalankan kegiatan-kegiatan, baik itu petualangan, pembinaan prestasi maupun memasyarakatkan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor. FPTI Kabupaten Bogor dalam menjalankan program kerja dibantu oleh para anggotanya, yaitu club-club pecinta alam yang dengan sengaja mendaftarkan diri menjadi anggota FPTI.
Kegiatan panjat tebing di Kabupaten Bogor merupakan wujud nyata dari dinamika penggiat alam terbuka di Kabupaten Bogor yang dengan sadar menghimpun dirinya dalam berbagai organisasi yang dalam aktivitasnya mengandung unsur kegiatan panjat tebing, maka dari itu perlu adanya keteraturan dan kesatuan arah gerak kegiatan panjat tebing secara umum di seluruh wilayah Kabupaten Bogor khususnya.
Panjat tebing merupakan salah satu olahraga yang mempunyai unsur petualangan dan tantangan, olah raga ini mulai dikenal di Indonesia sejak awal tahun 1980an, dan pada saat ini olahraga panjat tebing sudah dikenal dikalangan luas bahkan merupakan salahsatu olah raga yang di lombakan pada Pekan Olahraga Nasional.
Dalam kegiatan olahraga panjat terbagi 3, yaitu panjat tebing pendidikan, panjat tebing prestasi dan panjat tebing rekreasi. Panjat tebing pendidikan yaitu diarahkan sebagai satu kesatuan yang sistematis dan berkesinambungan dengan sistem pendidikan nasional, yang dapat dilakukan pada jalur formal dan non formal melalui kegiatan intra kulikuler dan ekstra kulikuler.
Panjat tebing prestasi yaitu kegiatan yang dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai prestasi pada tingkat daerah, nasional dan internasional yang merupakan hak semua negara yang dilaksanakan melalui pembinaan dan pengembangan secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan yang bertujuan menumbuhkan, menjaga, dan meningkatkan prestasi.
Sedangkan dalam kegiatan panjat tebing rekreasi lebih diarahkan untuk memasalkan kegiatan panjat tebing alam sebagai upaya mengembangkan kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan, kebugaran, kegembiraan dan hubungan sosial. Kegiatan petualangan panjat tebing semacam ini juga diharapkan dapat meningkatkan kekayaan budaya yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan melestarikan alam.
Jenjang keorganisasian FPTI mulai dari tingkat Nasional, tingkat Provinsi dan Daerah seperti Kabupaten dan Kotamadya. Pengurus tingkat Nasional disebut dengan Pengurus Pusat (PP) yang membawahi Pengurus Daerah (Pengda) pada setiap provinsi, dan Pengurus Daerah membawahi Pengurus Cabang (Pengcab) setiap Kabupaten dan Kotamadya.
Sedangkan Pengurus Cabang, seperti FPTI Kabupaten Bogor maupun Pengurus Cabang lainnya mempunyai anggota yaitu organisasi pecinta alam dari berbagai tingkatan yang mendaftarkan diri sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FPTI.
Tujuan akhir dari kegiatan panjat tebing di Kabupaten Bogor adalah turut membangun dan mengangkat harkat martabat Daerah melalui kegiatan panjat tebing. Berkaitan dengan hal tersebut insan panjat tebing di Kabupaten Bogor sepakat dan ketetapan hati untuk terus mengembangkan olahraga panjat tebing melalui Federasi Panjat Tebing Indonesia Pengurus Cabang Kabupaten Bogor.
Upaya-upaya untuk mengangkat citra Kabupaten Bogor sebagai barometer pengembangan dan pembinaan olahraga panjat tebing berbasis potensi Daerah yang handal dan profesional di Jawa Barat terus dilakukan, salahsatunya yaitu dengan membuka sekolah panjat tebing untuk anak-anak (Spider Climbing School) yang penanganannya dilakukan secara profesional.
Maraknya perkembangan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor kini bukan hanya konsumsi orang dewasa saja, tidak dapat dipungkiri bahwa kini anak-anak kecil pun mulai tertarik dengan kegiatan yang penuh tantangan ini. Kegiatan panjat tebing yang di pandu oleh instruktur khusus adalah salahsatu solusi bagi anak-anak yang mempunyai minat dan bakat memanjat.
Pada tahun 2006 lalu Federasi Panjat Tebing Indonesia Pengurus Cabang Kabupaten Bogor membuka sekolah panjat tebing (Spider Climbing School) yang programnya dirancang untuk anak-anak mulai dari usia 9 tahun sampai 14 tahun, kegiatan ini dilakukan guna mewadahi para anak-anak yang ingin berprestasi maupun hanya sekedar menyalurkan hobi.
Seperti yang dikatakan Biro Pelatih cabang FPTI Kabupaten Bogor, Kristy Wenas, bahwa gerakan yang diajarkan kepada anak untuk dapat memanjat tebing yaitu melalui gerakan dasar yang dilatih untuk mampu melakukan keterampilan fisik mulai dari menggenggam, meraih, kemudian dilanjutkan dengan latihan yang lebih kompleks seperti gerakan-gerakan memanjat tebing atau dinding dengan tingkat kesulitan dan karakter tebing yang berbeda-beda.
Dengan mengikuti Spider Climbing School akan banyak pelajaran yang didapat oleh anak-anak, baik yang secara tersistem maupun yang otomatis. Selain diajarkan bagaimana cara memanjat yang benar dan aman, siswa juga dikenalkan dengan perlengkapan memanjat dinding maupun tebing dan kegunaannya, sehingga diharapkan melalui sekolah panjat tebing yang berbasis pendidikan ini mampu mencetak pemanjat handal dan profesional.
Spider Climbing School di pusatkan di lapangan Tegar Beriman komplek Pemda Kabupaten Bogor, hanya dengan mengeluarkan uang pendaftaran Rp. 50.000 dan iuran bulanan Rp. 35.000/anak, maka siswa dapat mengikuti latihan sebanyak tiga kali pertemuan dalam satu minggu selama 3 jam, dan jadwal latihan disesuaikan dengan kegiatan siswa.
Kebugaran sangat penting bagi anak, karena kebugaran dapat menunjang anak untuk melakukan aktifitas dan bereksplorasi. Kebugaran dapat diperoleh dengan cara mengikuti sekolah panjat tebing. Anak tidak dipaksakan untuk memanjat tebing kecuali atas dasar keinginannya sendiri. Dan di dalam melakukan kegiatan apapun apabila dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan, maka di situlah proses tumbuh kembang anak dapat ditingkatkan secara optimal.
Dalam bidang pembinaan dan prestasi, FPTI Kabupaten Bogor juga terus melakukan upaya-upaya atas kemampuan potensi daerah guna mengangkat prestasi panjat tebing di kancah nasional dan Internasional. Upaya tersebut dilakukan dengan cara memfasilitasi para atlet binaan dalam proses latihan yang di tangani secara professional dan berkelanjutan.
Hingga saat ini FPTI Kabupaten Bogor terus membina atlet untuk bersaing pada ivent-ivent tingkat Daerah, Nasional maupun Internasional. Pada kejuaraan daerah tingkat Jawa Barat 2008 yang diselenggarakan di Kabupaten Bekasi atlet junior binaan FPTI Kabupaten Bogor mampu bersaing dan mendapat gelar juara umum dengan perolehan 4 emas, 3 perak, dan 2 perunggu.
Pada kejuaraan tingkat Nasional piala Bupati Batara Open Wall Climbing yang diselenggarakan di Muara Teweh Kalimantan tengah tanggal 30 Oktober-1 November 2008, atlet binaan FPTI Kabupaten Bogor merajai pada nomor lead umum putra dan speed umum putra, atas nama Syabudin dan Indra Yoga meraih gelar juara satu pada ivent tersebut.
Selain kejuaraan tingkat Daerah dan tingkat Nasional, atlet binaan FPTI kabupaten Bogor juga mampu bersaing pada ajang kejuaraan tingkat Asia yang di selenggarakan di Pulau Dewata Bali tahun 2008, atas nama Tb Boy meraih medali perunggu pada nomor lead youth A putra, dan atas nama Bim Sigrid menempatkan peringkat ke empat. Sedangkan pada ajang Asian Youth Cup yang diselenggarakan di Yamaguci Jepang, Tb Boy meraih peringkat ke empat.
Pembinaan atlet panjat tebing di Kabupaten Bogor tidak terlepas dengan fasilitas latihan yang memadai. Sarana panjat dinding yang telah di sediakan oleh FPTI Kabupaten Bogor yaitu di sudut lapangan tegar beriman komplek Pemda Kabupaten Bogor. Dinding yang mempunyai tinggi 15 meter dan lebar 10 meter ini terbuat dari fiberglas mempunyai kemiringan yang variatif, pada dinding bagian tengah biasa digunakan untuk pemanjatan tingkat kesulitan (Lead), dan dua jalur bagian kiri dan kanan untuk jalur pemanjatan tingkat kecepatan (speed).
Untuk kepentingan segala aktivitas FPTI Kabupaten Bogor, dibawah kontruksi bangunan wall climbing tersebut tersedia kantor sekretariat FPTI Kabupaten Bogor yang dilengkapi dengan ruang tamu, ruang kerja, dapur, kamar mandi, loker atlet, dan tempat penyimpanan alat-alat panjat tebing. Ruangan ini juga yang dipergunakan untuk kegiatan sekolah panjat tebing dan ruang rapat. Aktivitas FPTI Kabupaten Bogor di tempat ini 24 jam.
Pada sisi bagian kanan kontruksi wall, terdapat jalur pemanjatan yang terbuat dari kayu, yang mempunyai lebar 3 meter dan tinggi 15 meter. Selain digunakan untuk memanjat, pada dinding bagian ini juga biasa digunakan untuk latihan turun tebing (Refeling), dan latihan-latihan pertolongan pada ketinggian (Vertical Rescue) oleh perusahaan, instansi, organisasi sosial, maupun pecinta alam.
Untuk antisipasi hujan turun saat latihan, pada bagian belakang dinding dibuat sarana pemanjatan jalur pendek (Boulder) yang terbuat dari papan multiplek. Sarana bouldering ini mempunyai lebar 6 meter dan tinggi 4 meter, dengan karakter yang cukup ekstreme, yaitu overhang dan roop. Aktivitas bouldering di tempat ini biasanya dilakukan saat hujan atau malam hari.
Dalam upaya mengembangkan sarana dan prasarana olahraga panjat tebing yang representatif di wilayah Kabupaten Bogor, pada tahun 2006 lalu FPTI Kabupaten Bogor membangun sarana latihan panjat dinding di Aula Kantor Kecamatan Cileungsi. Dinding panjat indoor yang terbuat dari multiplek ini mempunyai tinggi 10 meter dan lebar 10 meter. Meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi pada dinding ini terdapat kemiringan yang cukup menantang.
Perkembangan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor tentunya tidak terlepas dari sarana latihan yang mendukung. Wall climbing milik Yayasan Budiniah Karanggan Citeureup, wall climbing Pt. Antam, wall climbing Kinasih, serta keberadaan wall climbing milik Universitas Djuanda, Ciawi Bogor juga banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan olahraga panjat tebing di Kabupaten Bogor khususnya.
Selain itu, upaya penggalian potensi, pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian tebing alam di wilayah Kabupaten Bogor terus dilakukan, selain tebing Ciampea dan tebing kelapa Nunggal juga masih banyak terdapat tebing yang layak dijadikan sarana panjat tebing alam, salahsatunya yaitu tebing batu yang berada di wilayah Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor.
Bukit dan gunung yang memiliki sudut kemiringan bervariasi di wilayah Kabupaten Bogor merupakan potensi alam yang indah sebagai ciptaan Allah SWT. Selain tidak kalah menarik dengan bukit-bukit dan gunung di daerah lain, dengan ketinggian 875 m diatas permukan laut (dpl), Gunung Batu memiliki potensi sebagai ajang menguji kemampuan memanjat tebing alam.
Menyadari akan tugas dan tanggungjawab dalam menyumbangkan peranannya sebagai komunitas yang bertanggungjawab langsung dengan pengetahuan olahraga panjat tebing, maka FPTI kabupaten Bogor memandang perlu untuk melestarikan tebing-tebing di Kabupaten Bogor sebagai sarana olahraga panjat tebing dan konservasi.
Sejak tahun 2006 hingga saat ini, FPTI Kabupaten Bogor masih konsentrasi pada salahsatu tebing batu di wilayah Sukamakmur. Tebing tersebut rencananya akan dilestarikan dan dimanfaatkan sebagai sarana olahraga panjat tebing. Upaya-upaya yang telah dilakukan adalah sosialisasi kepada masyarakat sekitar dan pembuatan pondok pemanjat di sekitar tebing.
Sebelumnya banyak masyarakat yang berprofesi sebagai penambang batu di tebing tersebut, selain menambang batu juga ada sebagian masyarakat yang membabat habis tumbuhan-tumbuhan penahan erosi dan menjadikan lokasi sekitar tebing sebagai perkebunan. Jenis batu pada tebing-tebing di wilayah sukamakmur kebanyakan batuan andesit, tetapi tidak semua tebing di sukamakmur layak dijadikan sarana panjat tebing, karena ada juga yang batuannya muda dan mudah pecah.
Pada tahun 2009 ini rencananya pembuatan jalur-jalur pemanjatan di tebing batu Sukamakmur akan segera direalisasikan, sebelumnya pada akhir tahun 2008 FPTI Kabupaten Bogor telah melakukan penanaman 200 bibit tanaman keras yang sampai saat ini masih dalam perawatan. Bibit tanaman tersebut di tanam di sekitar tebing yang gunanya untuk penyangga dan penahan erosi.
Selain itu, saung berukuran 4x6 yang saat ini sudah berdiri tegak tidak jauh dari dinding dapat digunakan. Pemandangan sekitar nampak elok dengan hiasan kabut tebal yang sesekali turun. Bangunan dari kayu yang berdiri diatas tanah seluas 1,5 hektare ini rencananya akan dijadikan base camp selama pembuatan jalur dan kegiatan FPTI Kabupaten Bogor di tebing batu 1 yang berdekatan dengan wana wisata Cipamingkis, Kecamatan Sukamakmur (Kens).
Selasa, 24 Maret 2009
Kejuaraan Panjat Tebing Piala Kasad III
Pemanjat Jawa Barat Kecewa Atas Ulah Pengurus Daerah FPTI Jawa Barat.
FPTI News, Atlet-atlet panjat tebing di Jawa Barat harus menelan pil pahit akibat ulah Pengurus Daerah FPTI Jawa Barat yang terkena skorsing karena tidak menghadiri Rakernas FPTI yang dilaksanakan di Bengkalis pada Februari lalu. Akibatnya atlet panjat tebing yang berdomisili di jawa barat tidak dapat mengikuti Kejuaraan Panjat Tebing Piala Kasad III yang berhadiah total Rp. 30 juta.
Selain atlet, tim teknis FPTI Jawa Barat juga tidak dapat aktif dalam pelaksanaan Kejuaraan Panjat tebing piala Kasad III yang diselenggarakan dari tanggal 24-29 Maret 2009 di Gedung Nanggala Kopassus Cijantung. "Kalau benar scorsing ini dilakukan, artinya Pengurus Pusat FPTI tidak peduli lagi dengan pembinaan", ucap Yudistira, Biro Jalur FPTI Jawa Barat.
Atlet-atlet panjat tebing Jawa Barat seperti Amri, Yusuf Zulkarnaen, dan Indra Yoga sangat menyesalkan kejadian ini, menurut Yusuf "seharusnya Pengurus Pusat FPTI memberikan sanksi lain terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Pengurus Daerah FPTI Jawa Barat, misalnya dalam bentuk administrasi ataupun sanksi lainnya yang tidak merugikan atlet, dan yang merasa melakukan kesalahan terhadap aturan yang berlaku dalam AD/ART FPTI harus bertanggung jawab" Kata Yusuf.
Ketentuan scorsing yang melarang atlet panjat tebing asal Jawa Barat untuk mengikuti Kejuaraan Panjat Tebing Piala Kasad III tidak berlaku bagi para pemanjat Militer yang berada di wilayah Jawa Barat, seperti Pendaki Serbu Linud 328, Detasemen C Brimob Sat III, Kopassus, dan kesatuan-kesatuan lain yang berada di wilayah Jawa Barat. Padahal seharusnya tidak ada yang membedakan antara FPTI sipil dan FPTI militer.
Ketua Harian FPTI Jawa Barat Herdy Hartadji membenarkan ikhwal scorsing yang di berikan oleh Pengurus Pusat FPTI, sebelumnya Herdy sudah mencoba mengklarifikasi permasalahan ini, nampaknya menemukan jalan buntu. "Ketidakhadiran Pengda FPTI Jawa Barat pada Rakernas FPTI 2009 bukan tanpa sebab dan tanpa kabar, sebelumnya kami sudah memberi tahu via telepon, karena secara kebetulan kegiatan Pengda FPTI Jawa Barat sedang padat dan tidak dapat menghadiri Rakernas" kata Herdy (Kens).
PENDAKI SERBU 328 UNJUK GIGI
FPTI News, Dalam perhelatan sengit Kejuaraan Tingkat Nasional Piala Kasad III yang diselenggarakan di Gedung Nanggala, Kopassus Cijantung 24-29 Maret 2009, nampaknya tim Pandaki Serbu Linud 328 sedikit-sedikit mulai menuai hasil jerih payah selama latihan.
Dari hasil penyisihan kategori speed yang dilaksanakan pada tanggal 24 maret, tiga pemanjat 328 menempatkan posisi teratas, yaitu atas nama Tindige, Kipli, dan Laode, yang akan memasuki babak final. Sedangkan pada nomor boulder hari ini tengah dilaksanakan, dan kategori Lead akan dilaksanakan besok sabtu 28/03 (Kens).
FPTI News, Atlet-atlet panjat tebing di Jawa Barat harus menelan pil pahit akibat ulah Pengurus Daerah FPTI Jawa Barat yang terkena skorsing karena tidak menghadiri Rakernas FPTI yang dilaksanakan di Bengkalis pada Februari lalu. Akibatnya atlet panjat tebing yang berdomisili di jawa barat tidak dapat mengikuti Kejuaraan Panjat Tebing Piala Kasad III yang berhadiah total Rp. 30 juta.
Selain atlet, tim teknis FPTI Jawa Barat juga tidak dapat aktif dalam pelaksanaan Kejuaraan Panjat tebing piala Kasad III yang diselenggarakan dari tanggal 24-29 Maret 2009 di Gedung Nanggala Kopassus Cijantung. "Kalau benar scorsing ini dilakukan, artinya Pengurus Pusat FPTI tidak peduli lagi dengan pembinaan", ucap Yudistira, Biro Jalur FPTI Jawa Barat.
Atlet-atlet panjat tebing Jawa Barat seperti Amri, Yusuf Zulkarnaen, dan Indra Yoga sangat menyesalkan kejadian ini, menurut Yusuf "seharusnya Pengurus Pusat FPTI memberikan sanksi lain terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Pengurus Daerah FPTI Jawa Barat, misalnya dalam bentuk administrasi ataupun sanksi lainnya yang tidak merugikan atlet, dan yang merasa melakukan kesalahan terhadap aturan yang berlaku dalam AD/ART FPTI harus bertanggung jawab" Kata Yusuf.
Ketentuan scorsing yang melarang atlet panjat tebing asal Jawa Barat untuk mengikuti Kejuaraan Panjat Tebing Piala Kasad III tidak berlaku bagi para pemanjat Militer yang berada di wilayah Jawa Barat, seperti Pendaki Serbu Linud 328, Detasemen C Brimob Sat III, Kopassus, dan kesatuan-kesatuan lain yang berada di wilayah Jawa Barat. Padahal seharusnya tidak ada yang membedakan antara FPTI sipil dan FPTI militer.
Ketua Harian FPTI Jawa Barat Herdy Hartadji membenarkan ikhwal scorsing yang di berikan oleh Pengurus Pusat FPTI, sebelumnya Herdy sudah mencoba mengklarifikasi permasalahan ini, nampaknya menemukan jalan buntu. "Ketidakhadiran Pengda FPTI Jawa Barat pada Rakernas FPTI 2009 bukan tanpa sebab dan tanpa kabar, sebelumnya kami sudah memberi tahu via telepon, karena secara kebetulan kegiatan Pengda FPTI Jawa Barat sedang padat dan tidak dapat menghadiri Rakernas" kata Herdy (Kens).
PENDAKI SERBU 328 UNJUK GIGI
FPTI News, Dalam perhelatan sengit Kejuaraan Tingkat Nasional Piala Kasad III yang diselenggarakan di Gedung Nanggala, Kopassus Cijantung 24-29 Maret 2009, nampaknya tim Pandaki Serbu Linud 328 sedikit-sedikit mulai menuai hasil jerih payah selama latihan.
Dari hasil penyisihan kategori speed yang dilaksanakan pada tanggal 24 maret, tiga pemanjat 328 menempatkan posisi teratas, yaitu atas nama Tindige, Kipli, dan Laode, yang akan memasuki babak final. Sedangkan pada nomor boulder hari ini tengah dilaksanakan, dan kategori Lead akan dilaksanakan besok sabtu 28/03 (Kens).
Langganan:
Postingan (Atom)

